Beranda > News > Politik Transaksional Penguasa Vs Pengusaha

Politik Transaksional Penguasa Vs Pengusaha

Aburizal Bakrie, Ketua Umum Partai Golkar pilihan Munas di Riau tahun lalu, ternyata sungguh-sungguh mulai menepati janjinya di depan Munas Riau. Di hadapan keluarga besar Partai Golkar, ia berjanji mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk mengembalikan kejayaan yang pernah diraih Sekretariat Bersama Golongan Karya, Sekber Golkar, dalam lebih dari tiga dekade di panggung perpolitikan nasional. (sumber)

Terpilihnya ketua umum Partai Golkar Aburizal Bakrie yang biasa dipanggai Ical sebagai ketua harian sekretariat bersama koalisi pemerintahan, tidak lepas dari adanya transaksi politik antara SBY dan Ical. Proses ini telah berlangsung sejak Partai Golkar ikut dalam koalisi pasca pemilihan presiden (pilpres).

Spekulasi tersebut muncul dikarenakan, tidak berselang lama pasca pengunduran diri Sri Mulyani dari Menteri Keuangan, Presiden SBY mengumpulkan para ketua umum partai koalisi di kediamannya Puri Cikeas. Dalam pertemuan tersebut Ical didapuk menjadi ketua harian Sekretariat Bersama (Sekber) yang baru dibentuk. (sumber)

Menurut mantan Sekjen Partai Demokrat Marzuki Alie, pembentukan Sekber tersebut sudah direncanakan sejak awal kesepakatan koalisi. Namun saat penandatanganan komitmen koalisi saat itu, Partai Golkar belum ikut dalam kelompok koalisi yang dipimpin SBY tersebut.

Dikatakan Marzuki, Partai Golkar memang masuk belakangan setelah pilpres. “Kontrak politik itu disepakati antara Pak SBY dengan Ical. Dan saya kira parpol koalisi lainnya juga mengetahui itu,” kata Marzuki kepada Waspada Online, siang ini.

Marzuki membenarkan pembentukan Sekber saat itu, Partai Golkar belum ada. Dijelaskannya, Sekber tersebut sudah ada dalam kesepakatan dalam koalisi antara SBY dengan parpol pendukung koalisi pemerintahan sebelum pilpres.

Namun Marzuki membantah bahwa ditunjuknya Ical sebagai ketua harian Sekber koalisi karena ada kaitannya dengan kasus Century. Pembentukan koalisi merupakan bagian dari evaluasi dari kekurangan yang ada dalam koalisi periode 2004-2009. (sumber)

Kisah “Asmara” Ical n SBY ;)

Hubungan Ical dan SBY cerminan hubungan dua anak manusia yang berbeda ’gender’ alias pacaran. Mereka sudah saling kenal, kencan dan sudah curhat-curhatan. Intinya hati mereka sudah bertautan.

Tapi kendala masih ada. Masing-masing masih punya ’pacar simpanan’, ’orang ketiga’, bahkan ’orang keempat’. SBY yang punya status bergengsi, masih suka lirik sana, lirik sini. Sementara Ical yang punya banyak duit, tidak mau ketinggalan.

Dua-duanya punya hobi telpon-telponan, saling kirim pesan singkat atau suka chatting di Facebook dengan pacar gelap. Seperti istilah pasangan selebriti yang baru saja hadir bersama dalam satu acara. Ical dan SBY kemudian ketemu dan kepergok media infotaintmen. Ical disuruh SBY menjawab pertanyaan wartawan hanya berkata singkat:”…. kami cuma berteman…”.

Wartawan tidak puas lantas mendesak. Misalnya mengapa mereka harus ’bergandengan tangan’ seperti pacaran? Ical berkilah “… oh kalau itu, kebetulan saja. Kami hanya sekadar memperkuat pertemanan. Kami punya chemistry yang sama. SBY suka berteman sama saya dan saya juga begitu. Tapi kita lihat saja nanti. Saya maunya hubungan kami mengalir seperti air …”.

Tidak ada maksud melecehkan SBY dan Ical ketika dua politisi papan atas itu disamakan dengan selebriti. Tetapi memparodikan hubungan SBY dan Ical jauh lebih mudah ketimbang membahasnya secara serius.

Koalisi SBY dan Ical, menjadi berita teranyar karena bersamaan dengan mundurnya Sri Mulyani. Mbak Ani digadang-gadang sebagai salah seorang ’darling’-nya SBY di kabinet. Tapi sebaliknya Sri Mulyani’musuh politik’ Ical. Diakui atau tidak, Ical sangat berkepentingan apabila Sri Mulyani tidak lagi menjadi menteri kesayangan SBY.

Permusuhan Ical dan Sri Mulyani berawal dari tidak dikabulkannya permintaan suspensi perdagangan saham PT Bumi Resources, ketika harganya terus turun. Ical memiliki saham mayoritas di BUMI. Kabarnya, gara-gara penolakan Sri Mulyani itu, kekayaan Ical melorot drastis.

Permusuhan Ical dan Sri Mulyani terus memanas. Dalam skandal Century, Partai Golkar, jelas-jelas menyalahkan Sri Mulyani dan Boediono. Ical pun kemudian diganggu persoalan pajak.

Perusahaan Ical disebut-sebut menjadi korban kriminalisasi aparat perpajakan, yang ada di bawah kementerian keuangan pimpinan Sri Mulyani. Sempat muncul kesan, SBY membiarkan persoalan, sampai-sampai Ical tak bisa menahan emosi.

Beberapa bulan lalu, Ical datang ke Fraksi Partai Golkar di Gedung DPR. Ical mengeluarkan pernyataan menantang. “Saya tidak takut ancaman… saya siap mati kalau ditantang…“, demikian kurang lebih potongan kalimat Ical itu.

Ical seakan menunjukkan anti-klimaks ketidakharmonisan hubungannya dengan SBY. Tapi kesan itu agak mereda, tatkala SBY menjadi saksi pernikahan putera Ical, April lalu.

Hubungan Ical dan SBY memang putus sambung. SBY (melalui aparatur dan jaringannya) dinilai membantu Ical sehingga berhasil mengalahkan Surya Paloh dalam perebutan kursi Ketua Umum DPP Partai Golkar Oktober 2009.

Tapi sebelum itu SBY tidak lagi merekrut Ical sebagai Menko selepas KIB 2004-2009 berakhir. Banyak pengamat menyimpulkan, Partai Demokrat sedang bersiap-siap mengecilkan Golkar.

Penggeseran Ical ke posisi Menko Kesra dari Menko Perekonomian dalam KIB 2004-2009, merupakan awal dari usaha SBY mengerdilkan Golkar dan tokoh-tokohnya. Lantas apa yang melatar belakangi SBY sehingga muncul keputusannya memberdayakan kembali Ical ataupun Golkar ?. “Nenek-nenek atau kakek-kakek aja pasti bisa menebak….”,begitu kurang lebih kelakar seorang pengamat.

Pada hakekatnya SBY dan Ical merasa tidak aman mengarungi politik sampai 2014. SBY sadar dalam politik berlaku rumus, tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Hanya kepentingan yang abadi.

Kepentingan SBY dan Ical sekarang sama. Yaitu bagaimana dua-duanya ’bisa selamat’. Sebisa mungkin bukan hanya sampai 2014 tapi setelah itu. Di 2004, Ical pernah bercita-cita menjadi Presiden. Ia ikut dalam konvensi Golkar bersaing dengan Akbar Tanjung, Wiranto, Surya Paloh dan Prabowo.

Cita-cita itu belum mati. Tapi untuk menghidupkannya, persoalan yang paling penting adalah bagaimana “bisa selamat” melewati perjalanan waktu sampai 2014. Jadi sekali lagi, wajar apabila Ical membantah tuduhan soal adanya transaksional politik. Yang ada yaitu menjaga ’kepentingan’. (sumber)

“Ada utang budi SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) pada Ical (sapaan akrab Aburizal Bakrie). Namun elite PD tidak menyadari hal ini dan mengeluarkan ancaman-ancaman terhadap Golkar yang menyinggung Ical. Inilah yang membuat kondisi panas,” kata pengamat politik Boni Hargens kepada wartawan, Jakarta, Minggu (14/2).

Menurutnya, indikasi utang budi Presiden SBY terlihat ketika Partai Golkar mengadakan Munas di Riau beberapa waktu lalu. Dijelaskannya, SBY secara jelas memberikan dukungannya pada mantan Ketua Kadin itu untuk merebut kursi Ketua Umum Golkar.

Padahal, lanjut dia, saat itu Ical harus berhadapan dengan kandidat lainnya yang didukung Jusuf Kalla, sebagai mantan wakil presidennya. “Golkar yang pada pilpres adalah kompetitor SBY, tapi kembali mendapatkan jatah kursi di kabinet, karena peran Ical,” tegasnya.

Hal yang sama, lanjut dia, terlihat dengan tidak adanya sanksi kepada Ical saat masih tergabung dalam kabinet Indonesia Bersatu Jilid 1 terkait bencana Lumpur Lapindo.

Dengan contoh di atas, tegas dia, nampak jelas adanya hubungan yang spesial antara SBY dan Ical sehingga tidak mungkin akan ada tindakan. Dikatakannya, fakta itu tidak disadari oleh bawahan SBY baik di pemerintahan maupun parpol.

“Kalau saja mereka tahu latar belakangnya tentunya mereka juga tidak akan berani mengusik Ical, karena bos besarnya saja tidak berani,” ujar Boni. (sumber)

Bila anda bertanya kenapa drama politik penuh intrik ???

Semua itu adalah orangnya ”Sudirman” (uang) yang ada di dompet Anda. Sebetulnya bukan hanya mereka tapi semua orang. Tapi mereka itu di-catalize, difasilitasi oleh seseorang yang bisa menjanjikan kebahagiaan sepanjang masa dengan ”Sudirman (uang)”.

Faisal Basri (Kompas, 10 Mei 2010) merumuskan dengan sangat tepat: ”Indonesia akan kembali terjerembap ke dalam cengkeraman dwifungsi yang lebih bengis dari dwifungsi militer Orba, bernama dwifungsi pengusaha-penguasa”.

Sumber : link

Kategori:News
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: